Saturday, December 17, 2016

Dokter Muda Kehilangan Keperawanannya

Dokter Muda Kehilangan Keperawanannya

Kisah Nyata - Ini adalah cerita Sexs nyata dari seorang dokter wanita muda. Sebut saja ia Meta, wanita muda ini berprofesi sebagai dokter umum, dan dia baru saja menyelesaikan pendidikan kedokterannya di salah satu perguruan tinggi ternama di Medan.

Seperti biasa, seorang dokter yang baru lulus, ia harus menjalani masa wiyata baktinya untuk sebuah desa di daerah yang ditentukan. Sebenarnya Papah dan tunangan meta sangat keberatan apabila Meta melaksanakan wiyata bakti didaerah yang telah ditentukan itu.
Selain jauh dari keramaian, daerah itu tergolong terpencil dan masih jarang peradaban modern. Karena orang tua Meta sangat keberatan dengan keputudan itu, maka orang tua Meta mencoba mencari cara supaya Meta ditempatkan di daerah lain, tentunya yang dekat dan tidak tidak terpencil. Namun semua upaya orang tua meta percuma saja, karena itu telah menjadi keputusan instansi pusat dan tidak dapat di ganggu gugat.
Orang tua dan tunangan meta kawatir sekali, karena Meta seorang gadis yang mnaja dan sering dimanja oleh orang tuanya. Tentu terbayangkan oleh kalian semua para pembaca, Meta seorang gadis manja harus menghadapi kerasnya kehidupan di desa yang terkenal terpencilnya desa itu dan kebudayaan masyarakat yang terbilang masih primitif itu. Tunangam Meta adalah orang yang paling kuatir dibandingkan orang tua Meta. Tunangan Meta khawatir karena mereka akan menikah beberapa bulan lagi.
Meta dan David ini telah lama sekali berpacaran, dan selain itu kedua orang tua mereka sudah saling merestui hubungan mereka. Oh iya hampir lupa, Gambaran seorang Meta sebagai berikut, ia berumur 23 tahun, tinggi badan 168 cm, dan berat badan 56 kg. Kalau bicara soal wajahnya tentu ia seorang dokter muda yang cantik, bertubuh sintal, berukuran bra 34B dan mempunyai pantat yang kencang dan semok.
Selain itu Meta termasuk mahasiswa kedokteran yang memiliki prestasi menonjol dikampusnya, sehingga janagan heran kalau diumuurnya yang masih 23 tahun itu ia telah menyelesaikan kuliahnya. David termasuk Pria yang beruntung, karena ia bisa menahklukan gadis seperti Meta. Untuk mendapatkan Meta David berusaha mati-matian, sehingga jagan heran kalau David bisa mendapatkan wanita cantik dan cedas itu.
Tunangan Meta ini adalah seorang Pria yang ganteng, ditambah lagi ia telah berkehidupan mapan. David bekerja disebuah perusahan yang ternaung dibawah pemerintahan dikotanya dan david ini adalah anak dari sahabat Papah Meta. Selama menjalani hubungan Meta dan David mempunyai gaya pacaran normal dan tidak aneh-aneh. Apabila mereka berkencan kegiatan mereka hanya dinner atau nonton saja. Mereka tidak pernah melakukan gaya pacaran Sexs bebas.
Singkat cerita tibalah hari dimana Meta harus berwiyata bakti. Setelah melalui perjalanan yang melelahkan Meta dengan diantar David dan Papahnya Di desa itu. Perjalanan dari kotanya memakan waktu selama 24 jam perjalanan ditambah jalan yang amat rusak dan sempit. Di desa itu Meta di sambut oleh perangkat desa itu dan kepala dusun. Dengan sedikit acara, barulah Meta resmi bertugas. Lalu Papahnya dan David pulang ke kota besoknya setelah mewanti-wanti Meta untuk berhati-hati.
Hari pertama ia bertugas Meta dibantu oleh kader kesehatan yang bertugas penunjuk jalan. Meta menempati salah satu rumah milik kepala dusun yang bernama Pak Haris. Pak Haris amat disegani dan ia termasuk orang kaya Di desa itu. Umurnya sekitar 65 tahun dan memiliki 3 orang istri. Pak Haris sering meminjamkan sepeda motornya kepada Meta untuk tugas-tugasnya. Terkadang Pak Haris sendiri mengantarkan Meta saat Meta ingin ke desa sebelah.
Bagi Meta keberadaan Pak Haris ini amat membantunya di saat ia hampir putus asa melihat lingkungan desa yang hanya terdiri dari hutan dan jalan yang hanya bisa ditempuh dengan sepeda motor. Karena sering diantar kedesa desa lainnya, seringkali tanpa disadari oleh Meta telah membuat Pak Haris menaruh rasa ingin memiliki dari diri paka Taba, apalagi jika dalam berboncengan seringkali dada Meta yang montok itu bersentuhan dengan punggung paka Haris.
Sebagai Pria normal iapun merasakan ingin yang lebih jauh lagi. Meta merasa ia tak bisa bertugas jika tanpa dibantu Pak Haris. Suatu hari saat pulang dari desa tetangga, mereka kehujanan dan hari saat itu hujan turun dengan derasnya.Lalu dengan buru-buru Pak Haris mempercepat kendaraannya, secara otomatis Meta memegang pinggang Pak Haris dengan erat dan dalam suasana itu Pak Haris dapat merasakan kehangatan dan sentuhan dada Meta dengan nyata.
Kemudian mereka sampai di kediaman Meta yang merupakan juga rumah milik Pak Haris. Sesampai didalam rumah, Meta masuk kekamar dan mengganti pakaiannya dengan kimono handuk, sedang Pak Haris ia pinjami handuk untuk ganti pakainan yang basah itu. Saat Meta berganti pakaian tadi Pak Haris mengintipnya dari celah pintu kamar itu. Jakunnya naik turun karena melihat kehalusan dan kemulusan kulit tubuh Meta seluruhnya. Dengan langkah pasti ia duduk di ruang tengah rumah itu karena diluar masih hujan deras,
“ Wah, hujannya deras sekali ini pak, Emm… Bagaimana kalau bapak memenginap saja disini Pak, ” kata Meta,
“ Wah… tidak usah repot-repot Mbak Meta, terima kasih sebelumnya. Kalau hujan reda saya akan pulang saja… ” jawab Pak Haris.
“ Baiklah pak kalau begitu… ” jawab Meta.
Kemudian Meta-pun pergi kedapur untuk membuatkan secangkir teh untuk Pak Haris,. Tak lama kemudian,
“ Pak, ini saya buatkan Teh pak, silahkan diminum Pak !!! ” ucap meta,
“ Wah Teh… bisa begadang saya malam ini Mbak, ”
“ O… ya… pak… apa perlu saya ganti dengan Susu hangat ? ” jawab Meta.
“ Ohh… nggak usah Mbak… ini juga nggak apa, ” timpal Pak Haris, sambil memandang kearah Meta.
Hingga saat itu hujan belum reda dan paka Haris terpaksa menginap di rumah itu. Meta terus menemani paka Haris ngobrol tentang pekerjaan hingga rencana ia akan menikah. Pak Haris mendengarnya dengan penuh perhatian dan sesekali mencuri pandang dada Meta.
Meta tak enak hati jika ia meninggalkan Pak Haris sendirian malam itu karena Pak Haris telah banyak membantunya. Sedang matanya mulai ngantuk. Sedang hiburan di rumah itu tidak ada karena tidak adanya jaringan televisi. Melihat Meta yang mulai ngantuk itu lalu Pak Haris menyuruh Meta tidur duluan.
“ Mbak, kalau Mbak Meta mengantuk Mbak tidur saja duluan, biar saya diluar sini, ”
“ Wah saya nggak enak ni pak masa Pak Haris saya tinggal, ” jawab Meta,
Kemudian Meta-pun memaksakan dirinya untuk terus ngobrol hingga jam menunjukan pukul 9 00 wib yang kalau Di desa itu telah larut ditambah hujan deras. Dari tadi Pak Haris terus memperhatikan Meta karena suasana malam itu membuatnya ingin mengambil kesempatan terhadap Meta dengan tidak menampakkan keinginannya. Padahal saat itu tanpa di sadari Meta Pak Haris telah duduk disamping Meta.
“ Mbak Meta.., dingin ya Mbak., ” kata Pak Haris.
“ Ya pak…, ” sahut Meta, Kemudian Pak Haris meraih tangan
Meta begitu saja,
“ Ini Mbak , saya pegang tangan Mbak ya.., biar dinginnya hilang…, ” bisik Pak Haris.
Metapun membiarkan Pak Haris meraih tangannya, memang ada hawa hangat yang ia rasakan. Lalu Pak Haris melingkarkan tangannya di bahu Meta dan mengelus balik telinga Meta, padahal itulah daerah sensitif Meta. Kepala Meta lalu rebah di bahu Pak Haris dan seperti sepasang kekasih Pak Haris terus meransang daerah peka di tengkuk dan bahu Meta.
Metapun meresapi usapan dan elusan lembut Pria yang seusia dengan Papahnya itu, matanya hanya merem melek. Mungkin karena suasana dan cuaca yang dingin membuat Meta membiarkan tindakan Haris itu. Pak Haris lalu berdiri, dan menarik tangan Meta hingga berdiri. Meta menurut, lalu ia tuntun kekamar yang dan menyilahkan Meta berbaring.
“ Mbak, tampaknya Mbak capek ya, ” kata Pak Haris.
“ Ya pak., ” kata Meta.
Pak Haris keluar kamar dan mengunci pintu rumah itu dan memeriksa jendela, lalu ia masuk kekamar Meta kembali sambil menguncinya dari dalam. Ia sudah tidak sabar ingin menggauli Meta yang telah menjadi obsesinya selama ini malam itu. Pak Haris berjalan kearah Meta, yang saat itu duduk ditepian ranjang.
“ Pak… koq di kunci? ” tanya Meta.
“ Biasalah Mbak, jika malam hujan begini kan biar hawa dingin nggak masuk… ” sahut Pak Haris.
“ Bagaimana Mba apa masih Dingin? ” tanya Pak Haris.
“ Iya pak… ” jawab Meta sembari mengangguk.
“ Baiklah Mbak bagaimana jika saya pijitin kepala Mbak itu biar segar, ” kata Pak Haris.
“ Iya boleh, silahkan pak… ” jawab Meta.
Lalu Meta duduk membelakangi Pak Haris dan Pak Haris pun naik ke ranjang itu dengan memijit kepala dan tengkuk Meta. Padahal yang dilakukannya adalah meransang Meta kembali untuk bisa mengusainya. Sebagai Pria berpengalaman tidaklah susah bagi Pak Haris untuk menaklukkan Meta, yang ia tahu belum begitu tau tentang dunia Sexs dan Pria.
Dengan gerakan lembut dan pasti usapan tangannya mulai dari tengkuk hingga balik telinga Meta. Meta-pun menutup matanya menikmati setiap gerakan tangan Pak Haris. Dari dekat Pak Haris dapat merasakan dan menikmati kehalusan kulit Meta. Beberapa saat lamanya pijitan Haris itu telah turun ke punggung Meta.
Diluar kesadaran Meta ternya kimononya telah turun dari bahunya dan yang tinggal hanya Bra yang menutup payudaranya. Bra itupun dengan kelincahan tangan Pak Haris jatuh dan sempat dilihat Pak Haris bernomor 34b. Masih dari belakang gerakan tangan Pak Haris lalu meremas payudara Meta. Meta sadar dan menahan gerakan tangan Pak Haris..
“ Sudah pak…, jangan lagi pak… ” sambil memakai kimononya kembali sedang Branya telah terjatuh.
Pak Haris kaget dan ia memandang mata Meta, ada nafsu tertahan, namun ia harus mulai memasang strategi agar Meta, kembali bisa ia kuasai.
“ Maaf Mbak.., kalau tadi saya lancang, ” kata Pak Haris.
Meta diam saja. Sedang saat itu Pak Haris hanya selangkah lagi bisa mengusai Meta. Lalu Pak Haris berjalan keluar dan ia tinggalkan Meta. Kemudian ia balik lagi kekamar itu, dan duduk disamping Meta, pakaian Meta saat itu acak-acakan.
“ Mba…, apa Mbak marah? ” tanyanya.
“ Tidak pak tapi sayalah yang salah. Padahal selama saya pacaran dan tunangan belum pernah seperti ini, ” terang Meta dan Pak Haris hanya mengangguk-anggukan kepalanya ketika mendengar perkataan Meta.
Cuaca malam itu tetap hujan deras dan dingin udara terus menusuk tulang, Pak Haris mengerti jika Meta khawatir sebab ia masih perawan, namun tekadnya sudah bulat bahwa malam itu Meta harus bisa ia gauli. Dalam kebiusan sikap Meta saat itu, Pak Haris kembali meraih tangan Meta dan menciumnya. Ketika itu ternyata Meta hanya diam membisu, lalu Pak Haris memeluk Meta dan tidak ada penolakan dari Meta.
Rupanya Meta saat tadi telah bangkit birahinya namun karena ingat akan statusnya maka ia menolak Pak Haris. Dijari Meta memang melingkar cincin tunangan dan Pak Haris tidak memperdulikannya. Dengan kelihaiannya, kembali Meta larut dalam pelukan dan alunan nafsu yang di pancarkan Pria desa itu. Sekali sentak maka terbukalah kimono Meta, hingga terbuka seluruh kulit tubuhnya yang mulus itu.
Dengan penuh nafsu Pak Haris memilin dan membelai dada putih itu hingga memerah dan dengan mulutnya ia gigit putingnya. Keringat telah membasahi tubuh Meta dan membuatnya pasrah kepada Pak Haris. Sebelah tangan Haris turun dan merongoh cd Meta dan memasuki lobang itu yang telah basah.
Lalu ia Mbak a dan tubuh Meta ia baringkan. Ia amat bernafsu sekali melihat belahan vagina Meta yang tertutup oleh sedikit bulu halus. Pak Haris pun lalu memMbak a baju dan cdnya, hingga mereka sama-sama bugil diatas ranjang itu. Kejantanan Haris amat panjang dan besar. Meta saat itu tidak tahu apa-apa lagi.
Pak Haris pun lalu memMbak a kedua kaki Meta dan mengarahkan kejantanannya kebelahan vagina Meta. Beberapa kali meleset, hingga dengan hati-hati ia angkat kedua kaki Meta yang panjang itu kebahunya, dan barulah ia bisa memasukan kepala kejantanannya.
“ Aduhhhhhh pak… aughhhhghhhhh… ghhh… sakit pak… ” jerit Meta.
Pak Haris lalu menarik kejantanannya kembali. Lalu dengan mulutnya ia beri air ludah ke pinggiran lobang vagina itu biar lancar. Kemudian ia ulangi memasukan kejantanannya. Dengan hati2 ia dorong masuk dan kepala kejantanan masuk…
“ Auuuuuggggkkkk… ” jerit Meta.
“ Sebentar Mbak ” kata Pak Haris.
“ Nanti juga hilang sakitnya Mbak … ” terangnya lagi.
Sekali hentak maka seluruh kejantanannya masuk dan ia maju mundurkan. Padahal saat itu Meta merasa dilolosi tulangnya. ia gigit bibir bawahnya menahan rasa nyilu dan sakit saat penetrasi tadi.Pak Haris telah berhasil merobek selaput dara Meta, hingga kelihatan tetesan darah di paha mulus Meta saat itu dan membasahi sprey yang kusut.
Tangan Pak Haris pun terus memilin payudara Meta dan kembali menahan pinggul Meta. Lebih kurang 20 menit ia maju mundurkan kejantanannya kedalam vagina Meta sedang Meta telah 2 kali orgasme, barulah ia muntahkan spermanya didalam rahim Meta. lalu ia tetap diam diatas tubuh Meta. Terlihat ketika itu, tubuh putih mulus Meta berada dibawah tubuh Pak Haris yang masih membelai dada dan menjilat bibir dan lidah Meta.
Kedua tubuh manusia itu penuh keringat. Di sudut mata Meta ada air mata karena keperawanannya telah hilang Mbak an karena tunangannya tapi oleh Pria tua itu.
Ia tidak punya pilihan lain karena telah terlanjur di setubuhi Pak Haris. Hingga menjelang pagi Pak Haris kembali mengulang permainan Sexs itu dengan Meta, hingga Meta merasakan kenikmatan dan mengetahui rahasia dalam permaianan dewasa.
David tidak ia inagt lagi dan saat itu ia terbelenggu oleh gairah dan nafsu yang di berikan Pak Haris.
Sejak saat itu, hubungan kedua insan yang berbeda umur sangat jauh itu terus berlangsung di rumah itu , kadang-kadang di gubuk milik Pak Haris di tengah hutan daerah itu. Meta merasa heran karena Pria seumur Pak Haris masih memiliki stamina yang prima dalam berhubungan. Tidak heran jika Pak Haris memiliki 3 orang istri dan memiliki 3 orang anak yang telah dewasa.
Harispun bermaksud untuk menjadikan Meta istrinya yang ke 4 karena ia amat bangga bisa memerawani seorang Dokter dari kota dan cantik. Untuk itulah ia terus berusaha menyetubuhi Meta hingga bisa hamil oleh bibitnya. Metapun sulit melepaskan diri dari Pak Haris. Ia sedang berpikir untuk membatalkan pertunangan dengan David, karena bagaimanapun ia sudah tidak perawan lagi. Sungguh merasa bersalah sekali Meta kepada David, tapi mau bagaimana lagi, berani berbuat harus berani menanggung resikonya.

0 comments:

Post a Comment